Selasa, 30 Oktober 2012

Laporan Pengukuran Pada Benda Padat


BAB I
PENDAHULUAN


1.1.     Tujuan Percobaan
1.      Mempelajari dan menggunakan alat-alat ukur
2.      Menentukan volume dan massa jenis zat padat
3.      Menggunakan teori ketidakpastian

1.2.      Dasar Teori
Pengamatan suatu gejala umumnya tidak lengkap bila tidak menghasilkan informasi kuantitatif. Untuk memperoleh informasi semacam ini dibutuhkan pengukuran suatu sifat fisis, dan karenanya pengukuran merupakan suatu bagian besar dari kegiatan rutin para ahli fisika eksperimen. Lord Kevin mengatakan bahwa pengetahuan kita memuaskan hanya bila kita mampu menyatakan dalam bilangan. Meskipun tuntutan ini mungkin berlebihan, hal ini menyatakan suatu sifat fisis dalam bilangan membutuhkan tidak hanya penggunaan matematika untuk menunjukan hubungan antara berbagai besaran, tetapi juga untuk mengolah hubungan-hubungan ini. Matematika adalah bahasa dari fisika.
Pengukuran adalah suatu teknik untuk mengkaitkan suatu bilangan pada suatu sifat fisis dengan membandingkannya dengan suatu besaran standar yang telah diterima sebagai suatu satuan. Sebelum mengukur sesuatu pertama, kita harus memiliki suatu satuan bagi masing-masing besaran yang akan di ukur.
Hukum-hukum fisika menyatakan hubungan antara besaran-besaran fisik, seperti panjang, waktu, gaya, energi, dan suhu. Jadi, kemampuan untuk mendefinisikan besaran-besaran tersebut secara tepat dan mengukur secara teliti merupakan suatu syarat dalam fisika. Pengukuran setiap besaran fisik mencakup perbandingan besaran tersebut dengan beberapa nilai satuan besaran tersebut, yang telah didefinisikan secara tepat.
Semua besaran fisik dapat dinyatakan dalam beberapa satuan-satuan pokok. Sebagai contoh, kelajuan dinyatakan dalam satuan panjang dan satuan waktu, misalnya meter per sekon atau mil per jam. Banyak besaran seperti gaya, momentum, kerja, energi, dan daya, dapat dinyatakan dalam tiga besaran pokok panjang, waktu dan massa. Pemilihan satuan standar untuk besaran-besaran pokok ini mengahasilkan suatu sistem satuan. Sistem satuan yang digunakan secara universal dalam masyrakat ilmiah adalah Sistem Internasional (SI). Dalam SI, standar satuan untuk panjang adalah meter, satuan untuk waktu adalah sekon dan standar satuan untuk massa adalah kilogram.
Alat yang digunakan dalam pengukuran :

a.
       Jangka sorong

Jangka sorong mempunyai dua rahang dan satu penduga. Rahang dalam digunakan untuk mengukur diameter dalam atau sisi dalam suatu benda. Rahang luar untuk mengukur diameter luar atau sisi luar suatu benda. Sedangkan penduga digunakan untuk mengukur kedalaman. Skala utama pada jangka sorong memiliki skala dalam cm dan mm. Sedangkan skala nonius pada jangka sorong memiliki panjang 9 mm dan
  di bagi dalam    10      skala,
sehingga beda satu skala nonius dengan satu skala pada skala utama adalah 0,1 mm atau 0,01 cm.
Jadi, skala terkecil pada jangka sorong adalah 0,1 mm atau 0,01 cm. Jangka sorong tepat digunakan untuk mengukur diameter luar, diameter dalam, kedalaman tabung, dan panjang benda sampai nilai 10 cm.

b.      Mikrometer Skrup

Mikrometer sekrup digunakan untuk mengukur panjang benda yang memiliki ukuran maksimum sekitar 2,50 cm, Benda yang akan diukur panjangnya dijepit diantara bagian A dan B. Untuk menggerakan bagian B anda harus memutar sekrup bagian C. Pada mi
krometer sekrup dalam 0,5 mm pada skala utama terbagi atas 50 skala putar, dan pada setiap penunjukan
tidak selalu terdapat skala utama yang berimpit dengan skala putar.
c.       Neraca Teknis

Massa benda menyatakan banyaknya zat yang terdapat dalam suatu benda. Massa tiap benda selalu sama dimana pun benda tersebut berada. Satuan SI untuk massa adalah kilogram (kg).
Alat untuk mengukur massa disebut neraca. Ada beberapa jenis neraca, antara lain, neraca ohauss, neraca lengan, neraca langkan, neraca pasar, neraca tekan, neraca badan, dan neraca elektronik.
Setiap neraca memiliki spesifikasi penggunaan yang berbeda-beda. Jenis neraca yang umum ada adalah neraca tiga lengan dan empat lengan. Pada neraca tiga lengan, lengan paling depan memuat angka satuan dan sepersepuluhan, lengan tengah memuat angka puluhan, dan lengan paling belakang memuat angka ratusan.
Terdapat 2 cara untuk mengukur besaran fisis volume zat yaitu pengukuran langsung (untuk benda dengan bentuk teratur) dan pengukuran tak langsung. Pengukuran secara langsung dikenal sebagai cara statis, sedangkan pengukuran tak langsung dikenal sebagai cara dinamis dan menggunakan hukum-hukum fisika seperti hukum Archimedes sebagai bantuan. Akibat cara langsung tersebut, maka ketelitian dan kesalahan pengukuran volume bergantung pada kesalahan dan ketelitian pengukuran rusuk-rusuknya.
Massa jenis adalah massa per satuan volume dari suatu zat.
Dimana ρ = massa jenis (kg/m3)
               m = massa benda (kg)
               V = volume benda(m3)
Pengukuran massa benda diukur dengan alat yang disebut neraca. Seperti juga alat ukur lain, neraca juga bermacam-macam dan tiap-tiap macam mempunyai ketelitian sendiri-sendiri.




Hukum Archimedes
Suatu benda yang terbenam dalam fluida akan terangkat ke atas oleh gaya yang sama besar dengan berat fluida yang dipindahkan, dijabarkan oleh Archimedes (287 – 212 SM) yang disebut Hukum Archimedes.
FA = Vbf.g
Dimana :            FA : gaya ke atas (gaya angkat Archimedes) (Newton)
Vb : volume benda yang tercelup dalam fluida (m3)
ρf  : massa jenis fluida (kg/m3)
g   : percepatan gravitasi (m/s2)
Hukum ini selain untuk menghitung volume juga dapat untuk mengukur massa jenis zat cairatau zat padat.
Disamping menggunakan prinsip Archimedes, massa jenis zat cair dapat ditentukan dengan alat yang disebut Aerometer. Pengukuran massa jenis zat cair dengan Aerometer menggunakan prinsip-prinsip hokum Archimedes
Jika sebuah tangki berisi air diletakan di atas sebuah timbangan pegas missal beratnya W. sebuah benda yang beratnya w yang tergantung pada seutas tali diturunkan masuk ke dalam air tadi (tanpa menyinggung dinding dan dasar tangki).
F pegas + F apung = w
Dengan :
F pegas    : gaya tegangan dalam tali
F apung   : gaya apung
w         : berat benda

Jika S adalah gaya yang dikerjakan terhadap sistem. Menurut hukum ketiga Newton, gaya ini sama besar dan berlawanan arah dengan gaya yang bekerja terhadap timbangan.
Artinya, jarum skala timbangan menunjukan pertambahan berat sebesar gaya apung.





BAB II
ALAT DAN BAHAN


2.1.       Alat
1)      Jangka Sorong
2)      Mikrometer Skrup
3)      Neraca Teknis
4)      Bejana Gelas
5)      Thermometer
6)      Bangku penumpu

2.2.       Bahan
1)      Balok Kuningan
2)      Balok Besi
3)      Kunci



















BAB III
METODE PERCOBAAN


Metode Percobaan
Cara Statis:
1. Mengukur panjang dan lebar benda padat dengan tempat yang berlainan.
    Membuat hasil pengukuran dalam bentuk tabel masing-masing tersendiri
2. Mengukur ketebalannya dengan mikrometer s
ekrup
3. Menentukan massa benda padat dengan cara menimbang cukup sekali saja
4. Mencatat suhu ruangan pada awal dan akhir percobaan
5. Mengukur benda padat yang lain dengan harga rata-rata masing-masing
penyimpangan.
Cara Dinamis :
1.      Menentukan massa benda padat dengan cara menimbang
2.      Menimbang sekali lagi benda tersebut yang tergantung pada tali tipis.
3.      Menimbang sekali lagi benda yang tergantung tersebut terendam seluruhnya  dalam
      air. Ingat, airnya tidak ikut tertimbang dan benda tidak mengenai dasar bejana.
4.      Mencatat suhu air dalam ruangan pada awal dan akhir percobaan
5.      Mengulangi seluruh pengukuran tersebut di atas untuk benda padat yang lain.


Keadaan Ruangan


P (cm) Hg

T (0C)

C(%)

Sebelum Percobaan


1007

26,5

67

Sesudah Percobaan

1008

27

68



Perhitungan
1.      Balok = Kuningan
Massa = 35,8 gram

No.
P (cm)
L (cm)
T (cm)
V (cm3)
(gr/cm3)
1.
3,02 cm
1,51 cm
0,922  cm
4,204 cm3
8,861 gr/cm3
2.
3,02 cm
1,52 cm
0,923 cm
4,176 cm3
8,572 gr/cm3
3.
3,01 cm
1,50 cm
0,924 cm
4,171 cm3
8,558 gr/cm3
3,016 cm
1,51 cm
0,923 cm
4,183 cm3
8,558 gr/cm3
2,966 x 10-2
5,77 x 10-3
5,77 x 10-4



Ketelitian Kuningan :

1 -   Xliteratur – Xpercobaan  x 100 %
                Xliteratur

1 -    8,6 – 8,558     x 100 %
                8,6

99, 511 %
Jadi, ketelitian kuningan adalah 99, 511 %
2.      Balok = Besi
Massa = 35,8 gram

No.
P (cm)
L (cm)
T (cm)
V (cm3)
 (gr/cm3)
1.
3,04 cm
1,53 cm
0,969  cm
4,507 cm3
7,943 gr/cm3
2.
3,06 cm
1,54 cm
0,958 cm
4,514 cm3
7,930  gr/cm3
3.
3,05 cm
1,51 cm
0,954 cm
4,963 cm3
7,252 gr/cm3
3,05 cm
1,52 cm
0,960 cm
4,652 cm3
7,695  gr/cm3
5,77 x 10-3
-5,77 x 10-3
5,77 x 10-3






Ketelitian Besi Statis :

1 -   Xliteratur – Xpercobaan  x 100 %
                Xliteratur

1 -    7,9 – 7,695     x 100 %
               7,9

97, 4050  %
Jadi, ketelitian besi statis adalah 97, 4050 %

3.      Cara Dinamis

No.
Nama Benda
Mu (gr)
Ma (gr)
V (cm3)
 (gr/cm3)
1.
Balok besi
35,80 gr
31,1 gr
4,7 cm3
7,617 gr/cm3
2.
Kunci
18,920 gr
16,9 gr
2,020 cm3
9,366 gr/cm3

Ketelitian Besi Dinamis :

1 -   Xliteratur – Xpercobaan  x 100 %
                Xliteratur

1 -    7,9 – 7,617     x 100 %
               7,9

96, 417  %
Jadi, ketelitian besi dinamis adalah 96, 417 %






BAB V
PEMBAHASAN


Pengukuran adalah kegiatan membandingkan besaran untuk mendapatkansatuan yang dibutuhkan dengan menggunakan alat bantu yaitu alat ukur., semua pengukuran sedikit banyak dipengaruhi oleh kesalah eksperimental karena ketidaksempurnaan yang takterelakan dalam alat ukur atau karena batasan tadi.
Ketelitian atau ketidakpastian suatu besaran fisis memungkinkan kita untuk mendefinisikan jumlah angka yang menentukan yang terkait dengan besaran tadi. Contohnya, jika suatu pengukuran dinyatakan menghasilkan 642,54389 ± 1%, ini berarti bahwa ketidak pastian 6,4. Karena itu kita dibenarkan untuk hanya mengambil angka-angka dalam bilangan yang menentukan tadi. Dalam hal ini bilangan yang diambil adalah 642 ± 1% atau 642 ± 6.
Pada pengukuran lebar dianjurkan untuk menggunakan mikrometer skrup daripada menggunakan jangka sorong, karena ketelitian mikrometer sekrup lebih baik dibandingkan jangka sorong, yaitu 0,01 milimeter. Jika digunakan untuk mengukur tebal benda dengan maksimal 2,5 cm,maka mikrometer sekruplah yang digunakan, sedangkan jangka sorong digunakan untuk mengukur panjang atau lebar suatu bahan dengan ketelitian 0,05 milimeter.
Untuk mempermudah dalam penghitungan, kita dapat menggunakan kalkulator dengan menggunakan fungsi standar deviasi. Massa tali tipis tidak dapat diabaikan dalam tingkat ketelitian 1%, karena massa tali yang 1% itumempengaruhi ketelitian pengukuran.
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil yang buruk dalam suatu pengukuran, salah satunya ialah kesalahan pada pembacaan suatu pengukuran. Dalam percobaan ini pengukuran dilakukan dengan beberapa orang yang berbeda dan dilakukan pengulangan sebanyak 5 kali.
Pada percobaan yang telah dilakukan dianggap sukses karena tingkat ketelitian yang dihasilkan melebihi tingkat kepercayaan pada teori ketidakpastian.




Volume benda padat dapat ditentukan dengan 2 cara.
a.    Cara Statis
·         Balok Kuningan
Vbalok    =  p . l . t                                 
= (3,016) . (1,51) . (0,923)                 
= 4,183 cm3    
·         Balok Besi
Vbalok    = p . l . t
                 = (3,05) . (1,52) . (0,960)
= 4,652 cm3    

b.    Cara Dinamis
Pengukuran dilakukan dengan cara mencelupkan benda ke dalam air
·    Vbalok besi           = Mudara - Mair                                   
= 35,831,1                          
= 4,7 cm3                                
·    Vkunci   = Mudara – Mair             
= 18,92 – 16,90                                  
= 2,02 cm3

Dari kedua cara di atas, cara statis memiliki tingkat ketelitian yang sangat besar, karena pengukuran dengan cara ini memiliki perhitungan dan dilakukan dengan alat bantu yang memiliki ketelitian yang signifikan. Pada saat menghitung tingkat ketelitian, percobaan dengan menggunakan cara statis akan lebih teliti dibandingkan cara dinamis.
Pada pengukuran balok kuningan dengan cara statis massa jenisnya berbeda dengan pengukuran balok kuningan dengan nilai massa jenis cara dinamis, sebab pada cara statis di ukur hanya dalam keadaan di udara  dengan nilai gravitasi yang 9,8 m/s2. Sedangkan pada cara dinamis diukur pada dua tempat yaitu di udara dan di air. Pada saat diukur dalam air, massa jenis benda akan kecil karena terpengaruhi oleh gaya Archimedes.




BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Dari percobaan, pengamatan dan perhitungan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.
·         Pengukuran volume benda dapat dilakukan dengan dua cara,yaitu statis dan dinamis.
·         Mikrometer sekrup digunakan untuk mengukur ketebalan suatu benda sedangkan jangka sorong digunakan untuk mengukur  panjang serta lebar suatu benda.
·         Perhitungan hasil pengukuran dilakukan dengan bantuan fungsi SD pada kalkulator. 
·         Ketelitian pengukuran secara statis lebih besar dari pada cara dinamis.

Saran
·         Sebelum melakukan percobaan dan pengukuran disarankan untuk memahami dulu konsep besaran dan satuan.
·         Lakukan pengukuran sebanyak 5 kali dari sudut yang berbeda agar mendapat hasil maksimal.














DAFTAR PUSTAKA



 Buku Penuntun Praktikum Fisika Dasar . Universitas Pakuan. Bogor

Alonso, Marcello & Edward J. Finn. 1980. Dasar-Dasar Fisika Universitas. Erlangga. Jakarta

Suhada, Resa Taruna. 2009. Modul Fisika Dasar. Universitas Mercu Buana. Jakarta

Hilliday, David & Robert Resnick. 1985. Fisika. Erlangga. Jakarta











LAMPIRAN

Tugas Akhir
1.        Berikan keterangan mengapa tebal benda tidak diukur dengan jangka sorong, melainkan
dengan mikrometer skrup?
2.        Apakah massa tali tipis dapat diabaikan dalam ketelitian 1 %?
3.        Tentukan volume benda-benda padat dengan kedua cara!
4.        Dari kedua cara di atas, manakah menurut pengamatan yang paling teliti?
5.        Tentukan massa jenis benda-benda padat tersebut?
6.        Dari langkah 5, tentukan jenis benda-benda tersebut!
7.        Tentukan volume benda-benda tersebut pada suhu oC, langkah 6?
8.        Sebutkanlah salah satu cara lain untuk menentukan volume benda padat!

Jawab
1.     Mikrometer sekrup digunakan untuk mengukur tebal suatu bahan yang tipis, karena ketelitian mikrometer sekrup lebih baik dibandingkan jangka sorong, yaitu 0,01 milimeter. Jika digunakan untuk mengukur tebal benda dengan maksimal 2,5 cm, maka mikrometer sekruplah yang digunakan, sedangkan jangka sorong digunakan untuk mengukur panjang atau lebar suatu bahan dengan ketelitian 0,05 milimeter.
2.      Massa tali tipis tidak dapat diabaikan dalam tingkat ketelitian 1%,  karena massa tali yang 1% itu mempengaruhi ketelitian pengukuran.
3.     Volume benda padat dapat ditentukan dengan 2 cara.
a.    Cara Statis
·               Balok  kuningan
Vbalok    =  p . l . t                                 
= (3,016) . (1,51) . (0,923)                 
= 4,183 cm3    
·               Balok besi
Vbalok    = p . l . t
                                    = (3,05) . (1,52) . (0,960)
= 4,652 cm3    
           



b.    Cara Dinamis
Pengukuran dilakukan dengan cara mencelupkan benda ke dalam air
Vbalok besi     = Mudara - Mair                                   
= 35,831,1                          
= 4,7 cm3                                
·    Vkunci         = Mudara – Mair             
= 18,92 – 16,90                                  
= 2,02 cm3


4.     Cara Statis, karena pengukuran dengan cara ini memiliki perhitungan dan dilakukan
dengan alat bantu yang memiliki ketelitian yang signifikan.
5.     Massa jenis benda-benda yang diukur.
a.       Balok Kuningan    =  8,558  gr/cm3
b.      Balok  Besi            =  7,695  gr/cm3
c.       Kunci                    =  9,366  gr/cm3
6.     Balok kuningan, balok besi, dan kunci  (benda padat)
7.     Pada suhu 260C – 270C volume benda :
Cara Statis    : Balok kuningan        =  4,183 cm3
                        Balok besi                =  4,652 cm3
Cara Dinamis :Balok besi                 =  4,7     cm3
8 .    Dicelupkan ke dalam wadah berisi air yang telah dicatat volume awalnya dan volume benda dapat dilihat dari besar perubahan volume air dalam wadah tersebut (Hukum Archimedes)